Welly Blog's

Bahasa sebagai Tanda

Posted on: 29 Januari 2010

  1. Teori tentang tanda

Stephen Ulimann (1977) mengemukakan bahwa para pakar filsafat masa kini begitu asyik dengan makna, sehingga mereka bisa mengembangkan warna khusus dari semantik. Secara lebih mendalam ilmu semantik filosofis merupakan cabang logika simbolik, atas cara khusus menjadi cabang dari ‘teori tanda’ (teori of signs). Dalam hal ini bahasa dipandang sebagai tanda (signs), sejajar dengan tanda-tanda lain yang juga mempunyai makna tertentu.

Sejak gerakan romantik di Eropa, pikiran dan seni orang Eropa sangat tertarik kepada lambang-lambang (symbol), kadang-kadang terpesona. Sebagai mana dikatakan Emerson, “we are symbols, and inhabit symbols” (kita adalah lambang dan menghuni lambang). Imajinasi para penyair menggarap alam manusia dengan lambang-lambang berbau metafisik.

Menurut C.S. Peirce ilmu tentang tanda disebut juga semiotik (semiotics), yang dahulu disebut semasiologi (ilmu tentang makna) oleh Chr. Reisig, dan kemudian Saussure disebut semiologi. Salah satu produk awal dan berpengaruh adalah karya C.K. Ogden dan I.A. Richards, the meaning of meaning (1923). Pada tahun yang sama juga terbit karya E. Casshier, philosophy of symbolic forms.

Dalam perkembangannya semiotik dibagi menjadi tiga cabang, yakni:

  • Semantik, berhubungan dengan makna dari tanda-tanda.
  • Sintaksis, berhubungan dengan gabungan (kombinasi) tanda-tanda.
  • Pragmatik, berhubungan dengan asal-usul, pemakaian, dan akibat pemakaian tanda-tanda itu dalam perilaku (behaviour) tempat tanda-tanda itu berada.

Perangkuman semacam itu menyebabkan teori tentang tanda-tanda ini tampak seperti sangat abstrak, padahal sebenarnya tidak begitu. Teori ini sebenarnya berkaitan dengan berbagai gejala yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, yang hakikatnya mempunyai satu hal, yakni bahwa tanda itu adalah tanda bagi sesuatu, menunjuk (mengacu) ke sesuatu di luar dirinya.

Beberapa tanda bisa muncul secara spontan dan menjadi tanda jika dia diinterpretasikan demikian. Misalnya, mendung di langit kita anggap sebagai petunjuk akan datangnya hujan.

Tanda-tanda yang digunakan oleh manusia dapat dibagi dalam dua kelompok. Yang pertama adalah lambang-lambang nonbahasa, seperti gerakan anggota badan (gesture), sinyal-sinyal dalam berbagai jenis, lampu lalu lintas, rambu-rambu jalan, bendera, dll.

Kelompok kedua adalah bahasa sendiri, lisan atau tertulis. Karena bahasa itu merupakan bentuk yang paling penting dan terkenal dari ekspresi simbolik, maka ia memegang posisi kunci dalam teori tentang tanda.

Di sisi lain, tanda-tanda dapat digolongkan menjadi tanda-tanda intensional (sengaja dibuat manusia) dan tak intensional. Tanda-tanda yang ada pada benda-benda alam tak bernyawa (mendung, gerhana, bintang) adalah tipe tak intensional kecuali untuk hal-hal yang bersifat tahayul. Tanda-tanda yang intensional dapat dilihat pada gejala yang menunjukkan harapan pada binatang, misalnya pada percobaan Pavlov dengan refleks-refleks bersyarat pada anjing. Bahasa tentulah masuk ke jenis pertama yaitu tanda intensional.

Perbedaan kedua dan sangat penting ialah perbedaan dalam tanda-tanda yang sistematis dan yang tidak sistematis. Misalnya, gerak anggota badan tidaklah membentuk sistem yang koheren, ini termasuk ke dalam jenis yang tidak sistematis. Dalam jenis yang sistematis ada beberapa kemungkinan pengelompokan. ada sistem yang terdiri dari sejumlah kecil unsur. Tapi mempunyai aturan tetap dan pasti, misalnya tanda-tanda lampu lalu lintas, yang hanya terdiri dari warna hijau, merah dan kuning, yang di mana-mana memilliki makna pasti.

Tanda-tanda bisa juga digolong-golongkan berdasarkan indera yang dipakai sebagai dasar acuan. Misalnya, warna merah dalam kalender yang menandai hari libur adalah tanda untuk indera visual (penglihatan), kentungan adalah tanda untuk pendengaran (audio).

Perbedaan tanda yang lebih mendasar lainnya adalah ikonik (tanda yang sama dengan yang diacu) dan konvensional (hanya berdasarkan kesepakatan). Perbedaan keduanya lebih banyak bersifat berjenjang daripada perbedaan jenis. Foto, potret, peta, jalan, model adalah ikonik pada tingkat tinggi, karena foto adalah gambar wajah yang serupa dengan orang yang difoto; foto itu sama dengan orang yang “ditunjuk”oleh foto itu. Tanda yang murni konvensional, seperti kode-kode, berbagai sinyal, titik (.) atau tanda hubung (-) dalam kode morse, dan lain-lain. Bahasa itu sendiri hakikatnya tergolong tanda intensional, sistematis, konvensional, dan ikonik (onomatope).

  1. Bahasa sebagai tanda

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa bahasa dapat menjadi objek kajian semiologi (Saussure) atau semiotik (Peirce). Implikasinya, bahasa harus dipandang sebagai tanda (sign), yaitu tanda bahasa. Ogden dan Richards berbicara tentang hubungan antara kata (bentuk bahasa), makna, dan referen dalam bagan berupa segi tiga. Teorinya sering disebut sebagai teori segi tiga dasar, dan tergolong teori referensial dalam semantik, yaitu teori yang mencoba mengkaji makna kata ketika kata itu berdiri sendiri (tidak dalam konteks).

PIKIRAN (REFERENSI)

Melambangkan mengacu (hubungan mengacu kepada (hubungan

Kausal atau sebab-akibat) kausal yang lain)

mewakili atau mendukung (suatu hubungan yang dipandang sebagai tindak, keadaan, atau hasil)

Menurut Ullman, unsur mendasar dalam diagram segi tiga diatas adalah bahwa segi tiga itu membedakan tiga komponen makna, yakni

  1. lambang (bunyi-bunyi yang berbentuk kata) pada titik kiri bawah; lambang bunyi ini ”melambangkan.”
  2. pikiran atau referensi (pikiran, konsep), berupa bayangan atau citra di dalam benak penutur bahasa, terletak pada titik atas; referensi ini mengacu kepada unsur atau peristiwa yang dibicarakan.
  3. referen (acuan), terletak pada titik kanan bawah.

Dalam hal ini lambang (atau kata) tidak memepunyai hubungan langsung dengan benda (atau objek) atau hal yang diacunya, sebagaimana terlihat akan ada garis terputus-putus, yang menghubungkan titik kiri bawah dengan titik kanan bawah.

Misalnya: kata pintu, tidak langsung mengacu kepada ”benda” yang bernama pintu, melainkan harus dibayangkan dahulu di dalam benak; dan bayangan (citra) dalam benak itulah yang mempunyai hubungan langsung dengan benda itu.

MAKNA/KONSEP

KATA

REFEREN BENTUK

Menurut Lyons, bentuk sebuah kata melambangkan “sesuatu” dalam arti konsep yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan bentuk kata tadi di dalam benak atau pikiran penutur. Konsep inilah makna dari kata tersebut; dan makna itu merupakan abstraksi dari benda atau “sesuatu” yang senyatanya (referen atau acuan). Dari definisi ini kita tahu beda makna dan referen.

Contoh konkret diberikan oleh Richards dkk dengan gambar segi tiga berikut ini:

Konsep abstrak tentang meja

Kata meja benda nyata meja

Menurut Richards, sebuah kata, yaitu meja mempunyai makna ‘meja’, berwujud bayangan (gambaran, abstraksi) tentang meja. Jika diwujudkan dalam bentuk konkret, konsep tentang meja tersebut menjadi benda nyata (real) berbentuk meja. Dengan kata lain, kata meja melambangkan ‘meja’ dan mengacu pada benda yang bernama “meja.”

Jadi, kita harus membedakan antara kata, makna (yang dilambangkan oleh kata) dan acuan (yang diacu oleh kata).

Model lain untuk menjelaskan bahasa sebagai tanda dapat diambil dari penjelasan Saussure berikut ini:

= tanda bahasa

Tanda (bahasa) itu sendiri adalah wujud psikis yang menyatukan konsep dan citra akustis. citra akustis menurut Ogden dan Richards disebut bentuk (form) dan konsep itu ialah makna (meaning). Ini berarti bahwa tanda (bahasa) itu mengandung unsur bentuk dan makna. Unsur bentuk dari tanda bahasa berupa bunyi ujaran (dalam bahasa lisan) atau berupa tulisan (dalam bahasa tulis), sedagkan konsep atau makna adalah sesuatu yang berada dibalik tanda itu. Dalam bagan diatas, citra akustis atau bentuk adalah penanda atau signifiant, yaitu yang menandai, sedangkan konsep atau makna adalah penanda atau signifie, yakni yang ditandai.

3. Kekaburan batas makna

Implikasi dari hubungan bentuk dan makna adalah munculnya kekaburan batas antara makna kata. Selama berabad-abad, para penulis dan pemikir selalu kritis terhadap kekurangan bahasa, sebagian dari mereka secara khusus menunjuk bahwa katalah yang menjadi biang keladinya. Filosof Perancis, Casmus, bahkan sudah membayangkan kemungkinan adanya bahasa yang tidak bermakna, yang mengungkapkan pengisolasian yang mendasar bagi manusia. Kritik yang lebih khusus tentang kata sebagian besar berpusat pada tidak adanya ketetapan (lack of precision).

Menurut Kempson, ada beberapa jenis kekaburan dalam bahasa, yaitu:

  1. kekaburan referensial, yaitu makna butir leksikal atau makna kata pada prinsipnya cukup jelas tetapi sulit kita memastikan apakah butir itu bisa atau tidak bisa diterapkan pada objek tertentu.

Contoh: kata hutan dan rimba, gunung dan bukit

  1. kekaburan karena ketidakpastian makna, yaitu maknanya sendiri memang tampak tidak pasti atau tidak menentu.

Contoh: lukisan Anita yang artinya bisa lukisan yang dibuat oleh Anita, lukisan milik anita, atau lukisan yang menggambarkan wajah Anita.

  1. Kekaburan karena Kurangnya spesifikasi makna kata, dalam arti maknanya jelas tetapi hanya secara umum saja dinyatakan.

Contoh: kata tetanngga yang tidak mempunyai spesifikasi atau pegkhususan akan jenis kelamin, suku, umur, dan sebagainya.

  1. Kekaburan karena disfungsi interpretasi, yaitu makna sebuah butir leksikal menimbulkan tafsiran yang berbeda-beda.

Contoh: ketika seseorang bertamu ke rumah tetangganya, kemudian tuan rumah menawarkan minuman, “minum teh atau kopi mas?” yang ditanya memperoleh dua pilihan, meskipun biasanya hanya memilih satu kemungkinan saja.

Tentang kegandaan itu, ullmann menyebut tiga faktor penyebab, yakni struktur fonetik kalimat, faktor-faktor gramatikal, dan faktor-faktor leksikal.

  1. Struktur fonetik kalimat

Keambiguan ini terutama terjadi dalam bahasa lisan. Satuan fonetik dari sederet tutur sebenarnya adalah helaan nafas, bukan kata secara individual. Akibatnya, dua helaan nafas yang sama bisa terdiri dari dua kata yang berbeda, yang membentuk homonimi dan dengan demikian dapat menimbulkan keambiguan.

Contoh: kata bantuan dan ban tuan

  1. Faktor-faktor gramatikal

Kata jadian dan frase adalah lingkup gramatika. dalam bahasa Indonesia kata pemukul bermakna ganda (ambigu) yaitu ‘alat untuk memukul’ dan ‘orang yang memukul.’

  1. Faktor-faktor leksikal

Faktor leksikal yang dimaksud adalah apa yang kita kenal dengan polisemi, yakni sebuah kata yang memiliki makna lebih dari satu dan homonimi, yakni dua atau lebih kata yang bunyinya sama tetapi maknanya berbeda, termasuk dua atau lebih kata yang ditulis berbeda tetapi diucapkan sama.

4. Sifat generik kata

Salah satu sumber pokok kekaburan adalah sifat “umum” atau generik kata itu sendiri. Kecuali nama diri dan sejumlah kecil kata benda yang menujuk benda-benda yang unik, tiap kata itu menunjuk tidak hanya satu benda tunggal, melainkan kelompok-kelompok benda atau peristiwa yang terikat menjadi satu oleh sesuatu unsur yang umum. Kata rumah misalnya yang diacu kata itu bukan sesuatu bangunan tertentu yang tunggal, melainkan sekian banyak jenis rumah.

Untuk menyebut kata rumah kita harus membedakan unsur-unsur nondistingtif (yang tidak membedakan) dan unsur distingtif (yang membedakan). Misalnya unsur distingtif “tempat tinggal” merupakan unsur yang membedakan kata rumah dari bangunan-bangunan lain. artinya sepanjang bangunan tadi dipakai sebagai “tempat tinggal” maka itu disebut rumah.

  1. Berbagai wajah kata

Kata-kata yang kita punyai tidak pernah homogen seratus persen, bahkan kata yang paling sederhana dan paling monolitik sekalipun mempunyai berbagai “wajah”, bergantung pada konteks dan situasi tempat kata itu dipakai dan pada kepribadian penuturnya. Kemultigandaan segi ini juga merupakan sumber penting yang menyebabkan kekaburan.

Contoh: kata buku, yang signifikansinya bermacam-macam, bergantung kepada pemakainya. Benda itu akan mempunyai arti yang berbeda-beda bagi pengarang, penerbit, pencetak, penjual buku, kolektor buku, petugas perpustakaan, pembaca spesialis, pakar pembuat daftar buku, dan lain-lain.

Kekurangjelasan Batas dalam Dunia Non Linguistik

Dua kekurangan bahas yang disebut terdahulu jelas berada pada wilayah bahasa. Faktor berikutnya yang menyebabkan kekaburan ialah kekurang jelasan batas dalam dunia nonlinguistik atau dunia di luar kebahasaan (the lack of clear cut boundaries in the nonlinguistik world). Dalam lingkungan fisik (yang serba konkret) saja kita sering berhadapan dengan gejala yang menyatu dan harus kita pilah-pilah. Spektrum warna (seperti dalam pelangi), misalnya merupakan lapisan warna yang bersinambung tanpa batas yang jelas. Lalu, manusia secara sewenang-wenang membagi spektrum itu menjadi sejumlah warna dengan nama yang berbeda pula dari bahasa satu dengan yang lain. Ada bahasa yang mempunyai tujuh kata untuk spektrum itu, ada pila yang hanya memadankan yang tujuh itu dengan hanya 3 atau 4 warna saja.

Kekurangakraban

Sumber kekurangan yang lain ialah kekurangakraban kita akan hal atau benda, sifat, dan peristiwa yang diacu oleh sebuah kata. Kekurangakraban itu merupakan faktor yang amat beragam, bergantung kepada pengetahuan umum dan minat khusus tiap individu. Misalnya, penduduk kota tentu mempunyai pengertian yang gelap tentang makna nama-nama binatang atau tanaman dalam pertanian, yang bagi peternak, petani atau pekebun di desa cukup jelas.

Makna emotif yang Tersembunyi

Stephen Ullmann banyak berbicara tentang apa yang disebutnya emotive overtone. Kata overtone berarti ‘makna yang tersembumyi’, sehingga emotive overtone dapat diartikan ‘makna tersembunyi yang bersifat emotif’. Kita sudah mengenal sejak di Sekolah Menengah adanya makna lugas (makna sebenarnya) dan makna denotatif yang sebenarnya sama, yang oleh pakar lain disebut makna objektif (Ullmann) atau makna logika (Palmer). Makna ini dipertentangkan dengan makna konotatif, makna subjektif, atau makna emotif.

Faktor fonetis

Salah satu faktor fonetis yang menyebabkan sefek rmotif adalah onomatope yang mempunyai hubungan intrinsik antara bunyi dan makna. Beberapa penyair tampaknya percaya bahwa bunyi dapat juga menghasilkan efek estetis murni, tanpa memendang makna yang diekspreikan oleh kata tersebut.

Konteks

Tiap kata, termasuk kata sangat umum sekalipun, di dalam konteks tertentu mungkin dikerumuni oleh unsur emotif. Ullmann memberi contoh kata wall ‘tembok’ dalam sebuah puisi berbahasa inggris kuno.

Slogan

Slogan ialah frase atau kalimat pendek yang mudah diingat, dipakai untuk memberi tahu atau menjelaskan tujuan organisasi, ideoloi golongan dan sebagainya. Slogan dalam dunia politik sangat sarat dengan muatan emosi sehingga emosi inilah yang mendesak makna objektif nya. Misalnya, pemberdayaan rakyat, peningkatan SDM, memasyarakatkan olahraga dan sebagainya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: